Menuju Sistem Pengendalian Hama Alternatif
Terjadinya resistensi pada hama serangga 10 tahun terakhir, menjadi permasalahan yang sangat serius bagi petani. Penggunaan pestisida yang berlebihan membuat hama menjadi kebal terhadap pestisida tersebut.Tidak dapat dipungkiri pestisida menjadi primadona sejak puluhan tahun yang lalu. Pada tahun 1944 contohnya, hanya 44 spesies serangga diketahui resisten dengan insektisida. Sampai 1984, sekurangnya 447 spesies serangga, 100 tanaman patogen dan 48 spesies gulma telah mengembangkan resistensi terhadap pestisida.
Alternatif pengendalian hama sendiri seperti konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menunjukkan awal yang menjanjikan untuk menurunkan penggunaan pestisida,namun resiko yang ditimbulkan terhadap kesehatan dan lingkungan masih ada dan akibat serius terbukti akan berjangka panjang. Sistem PHT meskipun dikontrol secara hati-hati penggunaan pestisidanya tetapi tidak bisa meninggalkan sepenuhnya bahan kimia berbahaya tersebut. PHT secara ilmiah memang merupakan cara terbaik pengendalian hama dengan memadukan semua metode pengendalian hama yang ada, termasuk pengendalian biologis dan teknik-teknik budidaya. Kimia digunakan bila populasi mencapai ambang dimana kerusakan ekonomi pada tanaman dapat terjadi dan metode non-kimia tidak berhasil. Namun, bahan kimia yang digunakan juga membunuh tanpa pandang bulu musuh alami serangga hama. segera diketahui bahwa PHT tidak benar-benar menurunkan penggunaan pestisida karena resiko ketergantungan kimia yang tinggi akan lebih bila terjadi serangan massal.
Saat ini, petani yang bekerja dengan pengendalian hama bebas kimia mengakui pentingnya pandangan baru yang menyeluruh dan konsep yang sedang muncul, disebut Pengendalian Hama Alternatif (PHA). Menurut Jose R. Medina, PHA adalah campurtangan holistik dari pengelolaan tanaman dengan menggunakan pemecaan ke arah penataan ulang lingkungan lahan untuk secara proaktif mencegah timbulnya hama. Secara menyeluruh, diakui bahwa alam dapat mengatur sendiri, bila terdapat keanekaragaman spesies. Ketimbang campur tangan langsung dengan bahan kimia, tujuannya adalah untuk memberdayakan alam untuk memecah masalah secara internal. PHA menyesuaikan diri dengan seistem pertanian berkelanjutan yang dirancang dekat dengan siklus sumberdaya, dimulai dengan daur ulang bahan organik untuk membangun tanah yang sehat. Pengendalian Hama Alternatif sangat berhubungan dengan memahami kebiasaan serangga dalam konteks keseimbangan ekosistem kita. Seperti yang telah kita ketahui, ekosistem alami memberikan keseimbangan yang bagus untuk makhluk hidup dan bahan-bahan organik, seperti tanah, air, udara, tanaman, hewan, bahan organik dan mikroorganisme.
Karenanya, kita harus mengetahui dan memahami siklus keseimbangan alam ini, peranan dan fungsi bahan-bahan organik dan anorganik adalah penting bagi petani untuk melaksanakan sistem pertanian yang berkelanjutan. Perlu diketahu, istilah hama merupakan nama yang dibuat manusia karena pengaruhnya yang merusak terhadap tanaman yang dibudidayakan manusia. Sehingga binatang dapat dikatakan sebagai hama jika potensi merusak tanaman budidaya baik secara kuantitatif dan kualitatif sangat besar. Dahulu, kehidupan ekosistem di alam masih sangat teratur. Tetapi, gejala-gejala alam dan campurtangan manusia yang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri membuat binatang kehilangan tempat tinggal sehingga terjadi migrasi yang sangat besar di seluruh dunia. oleh karena itu, dengan sistem PHA ini diharapkan terjadinya kesinambungan antara Lingkungan (alam), Manusia, hewan dan Vegetasi sehingga rantai makanan berjalan dengan baik. Populasi dikatakan seimbang ketika fluktuasi makhluk hidup tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Oleh karena itu, perlu dikelola dengan baik hama-hama agar tidak menimbulkan ledakan ataupun malah memmbuat punah suatu hama karena kehidupan alam ini sebenarnya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta agar terjadi suatu keteraturan kehidupan di dunia ini.![]()


